Kamis, 06 Maret 2014

Kata Mama tentang Pernikahan

Okee sebenarnya tulisan ini udah lama banget tersimpan di netbok. Terus dipikir-pikir daripada cuman disimpan sendiri ga ada salahnya kali ya kalo dibagi ke blog. Mungkin (iya mungkin) ada yg nyasar, iseng, atau apalah terus ga sengaja baca ini. Semoga bisa kasih pencerahan buat yg galau nikah. Yg ga galau nikah semoga jadi ikutan galau #ehhhh.... Monggoo....

Ini hasil pembicaraan sama mama kemaren duluuu udah lumayan lama banget Rabu, 15 Januari 2014 di ruang tamu rumah. Entah perasaanku aja atau apa, akhir-akhir ini mama sering masukin topik tentang pasangan hidup, dan pernikahan ke dalam obrolan kami..Mungkin aura aku akhir-akhir ini aura mau nikah (padahal skripsi belum kelar, umur masih 17 plus 4 alias 21 :D). Atau kalo mau mikir positif buat bekal ke depan aja kali ya, takut boru sasada nya ini (anak cewe semata wayangnya) salah langkah.. Apa pun alasannya, thanks mamakee, karena emang beneran penting banget (ini ciyuss), merasa terberkati banget loh setelah sesi curhat itu kemaren.. Sayang si mama hanya ngasih wejangan, ga sekalian nyodorin calon, hehehheeee..

Hal paling utama yang dipesan mama pasangan hidup ku nanti haruslah orang yang benar-benar takut akan Tuhan. Ga sekedar rajin ke gereja atau ibadah sebagai rutinitas tapi harus benar-benar laki-laki yang memiliki hati untuk Tuhan. Laki-laki adalah kepala keluarga, kalau diibaratkan dalam sebuah kapal laki-laki adalah nahkoda yang akan menuntun ke arah mana sebuah bahtera rumah tangga dibawa. Laki-laki yang takut akan Tuhan sudah pasti akan mengarahkan bahtera rumah tangga menuju salib Yesus itu kata mama. Dia akan mengandalkan Tuhan dalam setiap aspek hidupnya, segala kuatir, permasalahan kebahagiaan dalam rumah tangga nanti secara otomatis akan diserahkan pada Tuhan..

Hal kedua yang dipesankan mama adalah dalam pernikahan perkelahian harus sebisa mungkin dihindari terutama di depan anak-anak kelak. Berselisih paham itu hal biasa kata mama, tapi jangan sampai ada tindakan kasar yang pernah terjadi. Perkataan kasar apalagi tindakan fisik harus sebisa mungkin dihindari. Perempuan harus pintar dan bijak dalam mengenali tabiat suaminya. Kalo kebetulan kita dianugerahi Tuhan suami yang keras jangan pernah balas dia dengan kekerasan. Balas dia dengan kelembutan, karena itulah obat pamungkasnya kata mama.Cari tahu apa yang menyenangkan hati pasangan mu, pintar-pintar dalam membaca situasi hatinya. Tekankan pada pentingnya komunikasi yang baik. Yang ini super penting. Pokonya apa pun yang dilewati sepanjang hari itu, selelah apa pun mungkin badan kita selalu sempatkan untuk sekedar mengobrol bersama. Keterbukaan itu harus dipupuk sejak awal dan dipelihara terus. Itulah kenapa acara makan bersama itu sangat penting kata mama,setidaknya satu kali dalam setiap hari keluarga harus diajar untuk selalu makan bersama. Dalam makan bersama kedekatan antara suami dan isteri, serta anak-anak akan terbangun. Saat makan bersama itu juga penting adanya memimpin doa bergilir (hemmm pantesan dari dulu di rumah wajib makan bersama dan pimpin doa bergilir ya maakkeeee)..

Mama itu yakin keluarga yang penuh damai sejahtera secara otomatis akan berlimpah berkat dan rezeki dari Tuhan (aminnnn). Kata mama sih kalo suatu keluarga selalu diisi dengan perkelahian dan cekcok sebanyak apa pun harta yang dimiliki ga akan ada gunanya, ga mendatangkan sukacita gitu. Tapi saat suatu keluarga selalu hidup penuh kasih dan damai sejahtera, sesulit apa pun keadaan keluarga tersebut pasti mereka selalu bisa bersukacita. Ibaratnya meskipun hanya bisa makan ubi mungkin, ubi tersebut akan terasa sangat nikmat. Berbeda sama keluarga yang mungkin bisa membeli apa saja tapi setiap makanan akan terasa hambar. Sukacita dan damai sejahtera dalam keluarga itu gak akan pernah bisa ditukar atau dibeli dengan apa pun..

Menikah itu artinya bukan hanya dua orang yang bersatu tapi harus diingat pernikahan itu adalah penyatuan dua keluarga besar. Hal ini sering kali dilupakan. Saat kita memutuskan untuk menikah dengan seseorang maka harus kita ingat bahwa kita telah menerima bukan hanya pasangan hidup kita itu, tapi juga seluruh keluarga besarnya sebagai bagian dari hidup kita. Ego harus ditekan, harus ada penyesuaian di berbagai sisi. Kita tidak boleh menekankan adat dan kebiasaan keluarga kita yang paling benar, kita ga boleh merasa keluarga kita lebih tinggi derajatnya dari keluarganya, begitu pun sebaliknya kita ga boleh merasa minder terhadap keadaan keluarga kita sendiri. Pasangan hidup yang baik adalah dia yang sudah mengenal keluarga besar satu sama lain dengan baik dan siap untuk menerimanya. Hubungan baik dengan kedua keluarga harus dijaga, harus adil, tidak boleh berat sebelah hanya pada keluarga salah satu pihak saja. Semua keluarga harus dianggap sama pentingnya..

Dalam menikah juga harus diingat ada hal yang memang cukup disimpan berdua saja.Ga semua masalah harus dibeberkan pada keluarga besar, terutama hal-hal yang sifatnya sepele dan sebenarnya masih bisa diselesaikan dengan baik berdua. Perkelahian kecil antara suami isteri misalnya, cukup sampai di pintu saja. Lewat dari pintu jangan terderngar apa pun. Kenapa? Karena suami isteri berselisih pendapat itu hal biasa, jika sedikit sedikit berantem sudah diadukan pada orangtua yang nantinya tidak enakan adalah kita sendiri. Seringkali kita berselisih dengan suami kita hanya sebentar lalu baikan, bayangkan jika kita sempat memberitahukannya pada orangtua kita atau keluarga luas. Mereka akan berpikir itu adalah perkelahian besar,bahkan saat kita sudah berbaikan dengan suami kita, mereka masih akan menduga-duga hal-hal yang kurang baik mungkin. Isteri harus bijak dalam menyimpan rahasia keluarga. Isteri harus berdiri menjadi tiang doa untuk keluarganya, untuk suami, anak-anak, orangtua, mertua, dan semua keluarga besar. Isteri yang bijak akan membawa kebaikan untuk keluarga. Aminnnn..

Semoga kita semua bisa ketemu pasangan hidup yang memang udah disediakan Tuhan buat kita, dan tetap setia mendoakan dia dan keluarga kita. Aminnnn...


 Ditulis di Kamar di rumah di Siantar, Kamis 16/01/14 10.56 wib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar