Okee sebenarnya tulisan ini udah lama banget tersimpan di netbok. Terus dipikir-pikir daripada cuman disimpan sendiri ga ada salahnya kali ya kalo dibagi ke blog. Mungkin (iya mungkin) ada yg nyasar, iseng, atau apalah terus ga sengaja baca ini. Semoga bisa kasih pencerahan buat yg galau nikah. Yg ga galau nikah semoga jadi ikutan galau #ehhhh.... Monggoo....
Ini hasil pembicaraan sama mama
kemaren duluuu udah lumayan lama banget Rabu, 15 Januari 2014 di ruang tamu rumah. Entah
perasaanku aja atau apa, akhir-akhir ini mama sering masukin topik tentang
pasangan hidup, dan pernikahan ke dalam obrolan kami..Mungkin aura aku akhir-akhir ini aura mau nikah (padahal skripsi belum kelar, umur masih 17 plus 4 alias 21 :D). Atau kalo mau mikir positif buat bekal ke depan aja kali ya, takut boru sasada nya ini (anak cewe semata wayangnya) salah langkah.. Apa pun alasannya, thanks mamakee, karena emang beneran penting banget (ini ciyuss), merasa terberkati banget loh setelah sesi curhat itu kemaren.. Sayang si mama hanya ngasih wejangan, ga sekalian nyodorin calon, hehehheeee..
Hal paling utama yang dipesan
mama pasangan hidup ku nanti haruslah orang yang benar-benar takut akan
Tuhan. Ga sekedar rajin ke gereja atau ibadah sebagai rutinitas tapi harus
benar-benar laki-laki yang memiliki hati untuk Tuhan. Laki-laki adalah kepala
keluarga, kalau diibaratkan dalam sebuah kapal laki-laki adalah nahkoda yang
akan menuntun ke arah mana sebuah bahtera rumah tangga dibawa. Laki-laki yang
takut akan Tuhan sudah pasti akan mengarahkan bahtera rumah tangga menuju salib
Yesus itu kata mama. Dia akan mengandalkan Tuhan dalam setiap aspek hidupnya,
segala kuatir, permasalahan kebahagiaan dalam rumah tangga nanti secara
otomatis akan diserahkan pada Tuhan..
Hal kedua yang dipesankan mama
adalah dalam pernikahan perkelahian harus sebisa mungkin dihindari terutama di
depan anak-anak kelak. Berselisih paham itu hal biasa kata mama, tapi jangan
sampai ada tindakan kasar yang pernah terjadi. Perkataan kasar apalagi tindakan
fisik harus sebisa mungkin dihindari. Perempuan harus pintar dan bijak dalam
mengenali tabiat suaminya. Kalo kebetulan kita dianugerahi Tuhan suami yang keras jangan
pernah balas dia dengan kekerasan. Balas dia dengan kelembutan, karena itulah
obat pamungkasnya kata mama.Cari tahu apa yang menyenangkan hati pasangan mu, pintar-pintar
dalam membaca situasi hatinya. Tekankan pada pentingnya komunikasi yang baik. Yang ini super penting. Pokonya apa pun yang dilewati sepanjang hari itu, selelah apa pun mungkin badan kita
selalu sempatkan untuk sekedar mengobrol bersama. Keterbukaan itu harus dipupuk
sejak awal dan dipelihara terus. Itulah kenapa acara makan bersama itu sangat
penting kata mama,setidaknya satu kali dalam setiap hari keluarga harus diajar
untuk selalu makan bersama. Dalam makan bersama kedekatan antara suami dan
isteri, serta anak-anak akan terbangun. Saat makan bersama itu juga penting
adanya memimpin doa bergilir (hemmm pantesan dari dulu di rumah wajib makan bersama dan pimpin doa bergilir ya maakkeeee)..
Mama itu yakin keluarga yang penuh
damai sejahtera secara otomatis akan berlimpah berkat dan rezeki dari Tuhan (aminnnn). Kata mama sih kalo suatu keluarga selalu diisi dengan perkelahian dan cekcok sebanyak apa pun
harta yang dimiliki ga akan ada gunanya, ga mendatangkan sukacita gitu. Tapi
saat suatu keluarga selalu hidup penuh kasih dan damai sejahtera, sesulit apa
pun keadaan keluarga tersebut pasti mereka selalu bisa bersukacita. Ibaratnya
meskipun hanya bisa makan ubi mungkin, ubi tersebut akan terasa sangat nikmat. Berbeda sama keluarga yang mungkin bisa membeli apa saja tapi setiap makanan akan
terasa hambar. Sukacita dan damai sejahtera dalam keluarga itu gak akan pernah
bisa ditukar atau dibeli dengan apa pun..
Menikah itu artinya bukan hanya
dua orang yang bersatu tapi harus diingat pernikahan itu adalah penyatuan dua
keluarga besar. Hal ini sering kali dilupakan. Saat kita memutuskan untuk
menikah dengan seseorang maka harus kita ingat bahwa kita telah menerima bukan
hanya pasangan hidup kita itu, tapi juga seluruh keluarga besarnya sebagai
bagian dari hidup kita. Ego harus ditekan, harus ada penyesuaian di berbagai
sisi. Kita tidak boleh menekankan adat dan kebiasaan keluarga kita yang paling
benar, kita ga boleh merasa keluarga kita lebih tinggi derajatnya dari
keluarganya, begitu pun sebaliknya kita ga boleh merasa minder terhadap keadaan
keluarga kita sendiri. Pasangan hidup yang baik adalah dia yang sudah mengenal
keluarga besar satu sama lain dengan baik dan siap untuk menerimanya. Hubungan
baik dengan kedua keluarga harus dijaga, harus adil, tidak boleh berat sebelah
hanya pada keluarga salah satu pihak saja. Semua keluarga harus dianggap sama
pentingnya..
Dalam menikah juga harus diingat
ada hal yang memang cukup disimpan berdua saja.Ga semua masalah harus
dibeberkan pada keluarga besar, terutama hal-hal yang sifatnya sepele dan
sebenarnya masih bisa diselesaikan dengan baik berdua. Perkelahian kecil antara
suami isteri misalnya, cukup sampai di pintu saja. Lewat dari pintu jangan
terderngar apa pun. Kenapa? Karena suami isteri berselisih pendapat itu hal
biasa, jika sedikit sedikit berantem sudah diadukan pada orangtua yang nantinya
tidak enakan adalah kita sendiri. Seringkali kita berselisih dengan suami kita hanya
sebentar lalu baikan, bayangkan jika kita sempat memberitahukannya pada
orangtua kita atau keluarga luas. Mereka akan berpikir itu adalah perkelahian
besar,bahkan saat kita sudah berbaikan dengan suami kita, mereka masih akan
menduga-duga hal-hal yang kurang baik mungkin. Isteri harus bijak dalam
menyimpan rahasia keluarga. Isteri harus berdiri menjadi tiang doa untuk
keluarganya, untuk suami, anak-anak, orangtua, mertua, dan semua keluarga
besar. Isteri yang bijak akan membawa kebaikan untuk keluarga. Aminnnn..
Semoga kita semua bisa ketemu pasangan hidup yang memang udah disediakan Tuhan buat kita, dan tetap setia mendoakan dia dan keluarga kita. Aminnnn...
Ditulis di Kamar di rumah di Siantar, Kamis 16/01/14 10.56 wib

Tidak ada komentar:
Posting Komentar